Feed on
Posts
comments

He aint heavy

This song keeps ringing in my ears, “He ain’t heavy, he’s my brother”. Only this time I should change it to “they ain’t heavy, they’re my children”.

I just came back from a meeting with the people who filed complaints about our street children project, “the dreamhouse”. These people objected to have street children in their neighborhood. They consider their neighborhood as clean and well educated community, and that the street children would be a real hazard for their well being. A man even said that the street children are not yet humans, that they should be humanized first before being let to interact with this honorable community.

They summoned us to this meeting to hear our answer about their complaints, but it appeared that we were not there to be heard. We were there to witness the pride and arrogance of men, and the foolishness of them as well. It is a 100 percent “Get out of here”, that no words are needed anymore, not even the soothing words of the “Lurah” and “Babinkamtibmas”.

Thanks to the so called elders and leaders of the community who had shared some simpathy, but still, this song keeps ringing in my ears.


The road is long with a many a winding turn,
That leads us to who knows where
who knows where.
But I’m strong
strong enough to carry him

- He ain’t heavy
he’s my brother.

So one we go
his welfare is my concern

No burden is he to bear
we’ll get there.
For I know he would not encumber me

- He ain’t heavy
he’s my brother.

If I’m laden at all I’m just laden with sadness

That’s everyone’s heart isn’t filled with the gladness
Of love for one another.

It’s a long
long road from which there is no return

While we’re on the way to there
why not share?
Yes and the load,
the load does not weigh me down
down at all

- He ain’t heavy
he’s my brother.

31 - 10 - 2008

Sam-el Ladh

JARI

Jari tengah itu saru
untuk diacungkan kepada orang,
tapi sebenarnya jari telunjuk,
yang teracung sembarangan,
lebih berbahaya, bahkan bisa mematikan.

Lebih baik memberi satu dua ibu jari,
dengan diiringi senyum di wajah,
atau mengagumi sebentuk cincin polos
yang terpatri di jari manis ini.

Lebih dari semuanya, aku bersyukur
masih punya kelingking
yang bisa membebaskanku dari gatal
di lubang hidungku ini..

Sam-el Ladh

Anak Manusia

“Anak jalanan itu juga anak manusia!”

Entah kalimat itu terucap dengan tulus, atau sekedar mulut manis di depan orang yang sudah membayar banyak untuk kontrakannya, namun kalimat itu memberiku sebuah perenungan yang berharga.

Betapa sering kita terjebak dalam stigma, stereotyping, dan bahkan menghakimi mereka yang berbeda dengan kita. Anak jalanan salah satunya. Anak jalanan itu identik dengan kriminalitas, kemalasan, dan kotor. Oleh karena itu tidak heran kami begitu sulit mendapatkan orang yang rela rumahnya dikontrak untuk keperluan ‘melayani’ anak jalanan. Bahkan seorang bapak yang jadi pengurus sebuah gereja pun dengan alasan ‘keamanan dan ketertiban’ memilih tidak memberikan rumahnya (yang sudah dihargainya terlalu mahal itu..)

Anak jalanan itu juga anak manusia. Itu berarti mereka juga punya harga diri dan perasaan yang perlu dihormati. Seringkali atas nama ‘menolong’, kita justru mengabaikan kebenaran ini, bahwa mereka juga sama ‘manusia’ nya dengan kita.

Hmm… aku mau meneruskan perenunganku..

 

Sam-el Ladh

Wisuda

Wisuda..hmm… harus berangkat pagi-pagi, karena instruksi untuk berkumpul paling lambat jam 6.30. Untungnya aku sempat sarapan dulu. Kenapa? Karena acaranya berlangsung dengan sangat sangat membosankan, sampai lewat jam 12 siang. Kasihan si PJ, yang hampir pingsan karena bosan ( dan mamanya yang benar-benar pingsan - kidding :-D )

Membosankan? Tentu saja. Bayangkan, dari 322 wisudawan UKDW tahun ini, wisudawan program pascasarjana menempati no.urut mulai no.290. Phew.. lama menunggu. Belum lagi performa paduan suara Duta Voice yang buruk. Lagu “I have a dream” berubah menjadi “I have a nightmare”, dan “O Happy  Day” menjadi “Oh, entah apa”.

Satu hal yang menghibur hanyalah khotbah Pdt. Daniel K. Listiyabudi, yang sangat “Daniel” (I know him, we were in the same class once) dan inspiring. (Diambil dari Habakuk 3, “Bila pohon ara tidak berbunga…”.) . Dan oh ya, ada lagi, IPK ku yang tidak mengecewakan, termasuk di top 21 lulusan tahun ini (ciee…).

Anyways, akhirnya wisuda, dan namaku pun menjadi semakin panjang dengan satu titel lagi.. woalah..

Praise God

Aku mengerti sekarang

Aku mengerti sekarang,
saat kau menangisi anak-anakmu
yang bagai domba-domba berserakan
tanpa gembala..

mereka yang kurus kering
karena kemarau panjang kasih sayang,
teronggok bak puntung sisa
yang diinjak-injak orang..

Aku mengerti sekarang,
saat kau berikan ragamu untuk mereka
yang berbaris dingin dan kelu
menuju liang kebinasaan

mereka yang putus asa,
karena topan badai kebencian,
tercerai berai bak puing-puing
yang tak dihiraukan orang

Aku mengerti sekarang..

 

Sam-el Ladh

« Newer Posts - Older Posts »